"Sebab menulis adalah peristiwa menyejarah"- @mizzanmrsydn

Senin, 23 Desember 2013

kontemplatif

Kritik

Lebih tajam dari pedang, lebih membekas daripada luka, lebih menusuk daripada duri. Kritik! Dapat membuat orang serasa kebakaran jenggot. Terbakar panas telinganya. Tak tidur semalaman. Apalagi kalau datangnya dari orang yang kita pandang.

Sering, kita tak menerimanya. Bukan membiarkannya masuk telinga kanan lantas keluar telinga kiri. Melainkan sama sekali tak menerimanya. Kembali mengkritik sang pengkritik. Gelap mata hingga dapat main tangan.
http://leadershipfreak.wordpress.com/2012/07/09/giving-criticism-like-a-pro/

Tapi mungkinkah, hidup tanpa kritik? Adakah sebuah dunia tanpa kritik?
Mustahil, dan jangan sampai terjadi. Bukan karena selalu ada manusia yang tidak suka dan mencari-cari kesalahan orang lain. Melainkan nanti dunia akan menjadi tempat yang stagnan dan tak sebaik ini. Orang-orang akan tidak mengetahui kesalahannya. Pemerintah menjadi terlalu yakin keberhasilannya. Seniman menjadi terlalu puas akan karyanya.

Memang ada kritik dekstruktif. Temannya: kritik konstruktif. Perbedaannya memang tak jauh. Bahkan kritik konstruktif sekalipun dapat diinterpretasi jadi kritik dekstruktif. Amat bergantung pada sang objek kritikan; mau menerimanya sebagai masukan atau celaan.

Kritik bagaikan bahan masakan. Kitalah koki yang menentukan bahan makanan mana yang kita buang dan ambil untuk dijadikan makanan lezat yang baik bagi jiwa kita. Jadi, berterimakasihlah pada para pengkritik hidup.

kontemplatif

Aktif-is-me

Dunia mahasiswa adalah dunia penuh kedinamisan dan aktivitas yang padat. Kampus menyediakan banyak pilihan buat mahasiswa. Tak ubahnya gemerlap pasar rakyat bagi seorang anak kecil. Bagai gemerlap lampu disko yang berkilau amat menarik. Meski akhirnya, tak seluruh individu dalam populasi human campus menyambutnya dengan antusias –riang gembira.

Mereka yang memilih masuk unit kegiatan kemudian dituntut aktif berkontribusi. Kuliah tak sebatas ruang kelas dan lorong yang menghubungkannya. Kuliah juga diwarnai rapat, kegiatan organisasi, pelatihan, bahkan aksi. Kawannya yang tidak ikut organisasi menyebut si aktif berkontribusi: aktivis. Mahasiswa aktivis. Terdoktrin bahwa aktivis adalah mahasiswa yang ada di badan eksekutif, senat, atau badan pemerintahan mahasiswa lainnya. Terdoktrin bahwa semua pengurus lembaga pemerintahan mahasiswa adalah aktivis.

Padahal tak ada jaminan, emblem yang gagah melekat di jaket almamater berarti sang empunya aktif berkontribusi di lembaga tersebut. Pun salah bila menganggap seluruh non-pengurus badan eksekutif bukanlah aktivis. Karena aktif dapat dilakukan oleh siapapun, untu hal apapun: olahraga, seni, kelimiahan, bahkan ibadah. Yang penting, di manapun mahasiswa mengambil jalan, ia selalu total serta mau dan mampu menjadi aktif-kontributif. Tidak hanya numpang nama.


Mahasiswa yang rajin beribadah dapat disebut aktivis, sering mengikuti lomba karya tulis dan menang termasuk aktivis, giat mengharumkan nama kampus melalui olahraga pun tergolong aktivis. Jadi, makna aktivis tidak pelu dipersempit hanya untuk mahasiswa di senat dan lembaga pemerintahan mahasiswa sejenisnya. Karena aktif itu universal: dapat dilakukan untuk apapun. Selamat menghirup semangat aktif-is-me. Jadilah aktif dan menginspirasi orang lain untuk ikut aktif; itu baru aktivis sejati!

Minggu, 11 Agustus 2013

Resensi Buku

Menghadirkan (kembali) Tuhan dalam Kehidupan

Judul : Tuhan yang Kesepian
Penulis : Tasirun Sulaiman
Penerbit : Bunyan
Tahun Terbit : 2013
Tebal : xii + 204 Halaman

ISBN : 978-602-7888-08-1    

Bagi beberapa kalangan, ihwal agama dan Tuhan adalah tabu: sesuatu yang jauh dari perdebatan dan diskusi tentang-Nya. Konsep ketuhanan bagai virus yang membuat alergi dari pertanyaan tentang Tuhan dan agama. Namun kredo tersebut mampu disanggah oleh Tasirun Sulaiman –penulis buku ini.
Sebuah pohon akan selalu diterjang oleh angin kencang, bahkan hujan dan badai yang dapat membuatnya goyah hingga tumbang berdebam ke tanah. Hanya akar yang kuatlah dapat menahannya dari segala aral rintangan. Akar-akar yang kuat menghunjam begitu dalam ke bumi sehingga menjadi pegangan kokoh bagi pohon keimanan. Mengalirkan kearifan dari akar-akarnya yang luas menjalar bagi diri dengan pohon keimanan yang sehat.
Dengan demikian, mempertanyakan kembali konsep ketuhanan dan makna dari setiap ibadah kita bukan hanya untuk menyelami hakikat esensial penghambaan kita pada Tuhan. Namun juga menumbuhkan akar keimanan yang dalam dan luas terhadap Dia Yang Mahaesa. Buku ini dengan membawa perspektif pengarangnya, yang mungkin saja berbeda pada tiap orang, mengajak pembacanya kembali ke substansi keberadaan seseorang di bumi ini. Mengajak kita sejenak keluar dari rutinitas yang kadang membuat kita melupakan isi dan membanggakan kulit. Sembari mengajak kita menenggang perbedaan yang ada: antargolongan, antaragama, antarmazhab.
Buku ini terbagi menjadi lima bagian; Agama dan Cinta Kasih Tuhan, Agama dan Kemanusiaan Universal, Agama dan Kehidupan Politik, Agama dan Kesucian Jiwa, Agama dan Kemasyarakatan;  yang kesemuanya masih dalam satu tubuh: ditarik dari perspektif agama. Dengan sisipan peritiwa sejarah yang mendukung opininya, sang penulis mencoba menghembuskan angin kesejukan dari pohon yang rindang bernama agama. Mengoreksi beberapa kesalahan dalam menafsir ayat-ayat-Nya: sebuah fenomena yang kian sering menggejala dalam keseharian kita.
Namun terdapat beberapa catatan seperti sumber sumber rujukan sejarah yang tanpa keterangan cukup. Sebab beberapa catatan yang dibeberkan memiliki sebagian perbedaan dengan sumber rujukan lain pada unsur pendukung cerita. Terlebih di bagian akhir buku tidak terdapat halaman daftar pustaka yang sebenarnya dapat menjadi perluasan dari wacana dalam buku ini. Mungkin di satu sisi, ini menunjukan kedalaman dan kefasihan sang pengarang pada apa yang ditulisnya.
Pada akhirnya kita tetap patut berterimakasih karena telah menambah satu lagi buku yang dapat membuka pintu dan mengajukan pertanyaan untuk sebuah dialog. Akan selalu ada keberagaman dalam memaknai medan tafsir yang begitu luas terhadap ayat-ayat-Nya. Oleh karena itu, bijaklah dalam setiap pengamalannya di kehidupan. (MIM) 

Sabtu, 22 Juni 2013

Nazaruddin dan Pencarian Jati Diri Bangsa

Oleh: Muhammad Izzan Mursyidan

Majalah TEMPO terbitan 17 Juni 2013 menurunkan laporan utama mengenai kiprah Nazaruddin –terpidana tujuh tahun perkara suap Wisma Atlet SEA Games XXVI Palembang. Majalah yang pernah dibredel dua kali pada masa Orde baru karena keberaniannya dalam pemberitaan tersebut menyebut Nazaruddin sebagai Super Napi. Sebutan yang merujuk kecerdikan Nazaruddin mengatur bisnis ilegal dari balik jeruji.
Menurut para saksi, Nazaruddin kerap menggelar rapat bersama 10-15 anak buahnya di kompleks penjara. Memang tidak terdapat klausul yang melarang tahanan untuk menggelar rapat atau menandatangani surat kerjasama perusahaan, namun pertemuan dengan tamu harus diadakan di ruang tamu penjara pada jam besuk. Nazaruddin, entah bagaimana caranya, saat ditahan di Rumah Tahanan Cipinang diberi hak untuk  menghelat rapat di ruang konsultasi di lantai 2 melampau jam besuk. Rapat tersebut mengatur segala alur kerja mulai dari pendirian perusahaan baru hingga lobi ke Dewan Perwakilan Rakyat.
Keleluasaan dalam menggelar rapat sudah ia dapatkan sejak ditahan di Markas Komando Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Privilese tersebut terus ia dapatkan setelah dipindahkan ke Rumah Tahanan Cipinang sebelum kembali dipindahkan ke Penjara khusus koruptor di Sukamiskin, Bandung. Keistimewaan yang diperoleh mantan bendahara umum Partai Demokrat itu juga berupa hak mengoperasikan gadget–hal yang dilarang di penjara. Melalui perangkat tersebut, tentu lebih mudah bagi Nazar untuk berkomunikasi ke anak buahnya. Bahkan ada kabar Nazar kerap menggunakannya untuk bermain saham.
Melalui jaringan yang telah ia bangun sebelum ditangkap di Cartagena, Kolumbia pada 7 Agustus 2011, ia makin memperluas “bisnis”-nya hingga nominal yang mampu membantu mengurangi kemsikinan apabila dialokasikan pada program pemerintah. Dengan sistem yang rapi, Nazaruddin dan jaringannya tetap produktif dengan membangun dua puluh delapan perusahaan baru selama Nazaruddin berbaju tahanan. Perusahaan-perusahaan yang didaftarkan atas nama anak buahnya tersebut memiliki akta perusahaan dan kantor. Nazaruddin memerlukan banyak perusahaan untuk mengamankan tender yang tersebar di berbagai proyek pemerintah. Seperti pada kasus pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Murjani, Sampit, Kalimantan Tengah. Proyek tersebut dimenangi PT Sanjico Abadi, dengan cadangan pertama PT Bina Inti Sejahtera dan cadangan kedua PT Rajawali Kencana Abadi, ketiganya perusahaan milik Nazaruddin.
                Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir, sebuah pepatah dari sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib yang kini dipraksiskan oleh Nazaruddin kepada publik Indonesia. Tentunya kejahatan luar biasa yang dilakukan Nazaruddin tidak akan terjadi tanpa sikap permisif oknum-oknum yang memiliki kepentingan. Sudah bukan rahasia lagi kalau hotel rodeo mampu menwarkan segala fasilitas yang dibutuhkan napi. Dengan dana hasil mencuri uang rakyat yang mereka peroleh sebelum ditangkap, banyak tahanan membeli segala faslitas layaknya hotel yang kini diperjualbelikan selama masa tahanan.
                Mulai dari keluar rutan tanpa perizinan resmi untuk pelesiran, layanan bak salon di dalam rutan, pemberian hak mengoperasikan aneka gadget, hingga seperti yang diberikan kepada Nazaruddin: menempati kamar sel sendirian yang seharusnya untuk dua orang. Bahkan dalam beberapa kasus, penjaga dan sipir penjara terlihat seolah-olah melindungi para terhukum. Belum lagi orang suruhannya yang menjadi mafia anggaran. Anak buahnya yang bermain di parlemen untuk bertugas mengatur anggaran melalui anggota DPR. Kiprah mereka pun telah menyeret banyak nama-nama wakil rakyat yang akhir-akhir ini kerap muncul di media. Layaknya fenomena gunung es, kasus tersebut belum termasuk yang tidak tersorot media.
                Banyak kasus-kasus kelas berat yang membutuhkan kerja rapi untuk menghindari jeratan hukum dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam pemerintah untuk memuluskan pencurian uang negara. Salah satunya pada kasus anggaran wisma atlet yang anggarannya ditentukan anggota DPR. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila para wakil rakyat bekerja sebagai wakil rakyat yang sebenar-benarnya dan menggunakan hati nurani dalam mengabdi pada negara. Kasus-kasus korupsi pajak juga tidak akan terjadi apabila para pengusaha mau jujur membayar pajak tanpa negosiasi ilegal dengan pegawai pajak yang praktiknya telah sangat merugikan negara.
                Kasus Nazaruddin hanya noktah yang membentuk garis hitam yang telah mencoreng wajah ibu pertiwi. Bila dulu rakyat Indonesia bersatu untuk bekerja sama melawan penjajah yang berasal dari lain bangsa, kini sebagian dari bangsa Indonesia harus menegakkan keadilan yang dirusak oleh sebagian lain saudaranya. Negeri kita dijajah oleh bangsa sendiri, pegawainya mencuri dari lembaga yang memberinya makan, orang-orangnya memperkaya diri di atas penderitaan saudara sebangsa dan setanah airnya sendiri, pemerintahnya membancak anggaran yang dialokasikan untuk program yang akan menyejahterakan bangsanya sendiri.
                Bangsa ini seperti mengalami degradasi moral kolektif. Perjuangan para pejuang pra dan saat kemerdekaan demi membebaskan bangsa dari kesewenang-wenangan para penjajah kini digantikan perjuangan para anak bangsa mencuri harta dan sumber daya Indonesia. Militansi melakukan tugas negara dengan sebaik-baiknya bereinkarnasi menjadi ketamakan para politisi mencuri uang negara dengan berbagai cara. Prinsip “Merdeka atau Mati” yang dipegang teguh generasi terdahulu kini menjadi absurd dalam alam pemerintahan pascareformasi yang dipenuhi polah bejat wakil rakyat. Kesatuan bangsa yang diikrarkan pemuda-pemudi seluruh Indonesia pada Sumpah Pemuda 1928 diinjak-injak oleh tingginya ego primordial sempit yang mudah terprovokasi.
                Bangsa kita sempat disiram keteduhan persatuan ketika beberapa waktu lampau, lagu dan kesenian Indonesia diklaim oleh bangsa lain. Meski asap tak pernah muncul tanpa api. Tingkah negara lain mengklaim budaya Indonesia bukan tanpa sebab dari bangsa pemiliknya yang tidak merawat dan menjaganya, kalau tidak dikatakan mulai melupakannya. Namun karena hal tersebut, seluruh elemen masyarakat terdongkrak nasionalismenya dan merasa terpanggil untuk ikut dalam gerakan-gerakan yang mengklaim kembali kekayaan budaya Indonesia yang telah dicuri.
Atau momen ketika Indonesia terlibat dalam turnamen olahraga akbar, lazimnya dalam bidang sepakbola atau bulutangkis. Selama perhelatan kejuaraan tersebut, masyarakat Indonesia menjadi gemar mengenakan jersey merah putih khas Indonesia. Simbol Garuda yang kerap dilupakan kembali dimaknai dan diagungkan. Beberapa kalangan yang awalnya tidak paham olahraga pun ikut mendukung dan menginginkan Indonesia menang.  Mereka saling berlomba menunjukkan nasionalisme sesaat dalam bentuk  dukungan kepada pemain Indonesia.
                Pengalaman bangsa Indonesia tersebut mencerminkan seolah-olah adanya sebuah kebutuhan akan musuh bersama yang identik dan jelas-jelas melawan atau minimal menjadi rival bangsa Indonesia secara utuh. Musuh bersama tersebut menjadi katalisator yang menjalar ke seluruh elemen bangsa lintas geografis dan demografis. Memunculkan perasaan yang menggugat jiwa nasionalisme bagi siapapun yang lahir, tumbuh, dan memiliki hubungan batin dengan Indonesia. Membentuk aksi nyata secara serentak dan kolektif sebagai bentuk sikap dan dukungan mendukung Indonesia melawan musuh bersama tersebut.
                Adanya musuh bersama memunculkan kesadaran kolektif akan identitas sebagai sebuah bangsa. Musuh bersama yang teridentifikasi sebagai sebuah bangsa akan juga mengidentifikasi setiap individu-individu masyarakat Indonesia sebagai warga negara Indonesia yang patut membela dan mempertahankan martabat bangsanya. Momen ketika muncul musuh bersama tersebut akan memperkuat kembali  identitas sebagai WNI yang kerap memudar diterpa pengaruh negara-bangsa lain di tengah era globalisasi. Momen tersebut akan menyatukan dan merekatkan kembali bangunan kebangsaaan yang sempat retak diguncang konflik primordialisme sempit.
                Begitu pentingnya penyadaran ke masing-masing individu akan identitas mereka sebagai suatu bangsa yang merdeka. Identitas sebuah bangsa yang harus menjaga dan merawat kemerdekaan Indonesia yang diperoleh melalui sejarah pengorbanan panjang,  penuh tumpahan keringat, darah, dan air mata. Tanpa adanya identitas sebagai suatu bangsa, misi berbangsa dan bernegara tiap individu akan menjadi bias. Membuat masyarakat lupa akan tujuan dari perjalanan bangsa yang harus dilanjutkan. Sehingga tujuan setiap individu juga akan menjadi sempit dan mengabaikan tujuan bersama.
                Orang-orang seperti Muhammad Nazaruddin bukannya bodoh atau kurang berpendidikan. Malah, ia mungkin salah satu putra terbaik bangsa. Namanya dapat bersanding dengan Gayus yang sama rapi dan lihainya dalam mengalirkan uang negara ke kantong pribadi. Namun kecerdikan mereka justru menjadi pisau yang berbalik mengarah ke jantung Ibu Pertiwi. Mengancam hidup segenap  masyarakat Indonesia. Menggerogoti kehidupan berbangsa bernegara dari segala dimensi: moral, ekonomi, sosial, politik.
Nazaruddin adalah produk dari sistem pendidikan Indonesia. Tidak ada yang salah dari pendidikan Indonesia. Bahkan, pendidikan Indonesia dapat dikatakan berhasil, sebab telah menghasilkan orang-orang yang cerdas. Namun pendidikan bukan hanya kognitif belaka. Pendidikan juga harus membentuk karakter manusia Indonesia yang dilandasi pemahaman yang baik tentang sejarah negara dan bangsanya. Menegaskan identitas dan karakter sesungguhnya sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang dianugerahi alam nan melimpah, serta kekayaan budaya dan bahasa. Bangsa yang mampu bersatu dengan menanggalkan identitas primordialisme sempitnya masing-masing untuk meraih independensinya sendiri.
Rakyat Indonesia butuh momen serupa serbuan Jepang yang mampu memunculkan jati diri sebagai suatu bangsa. Desakan seperti  agresi Belanda yang mampu menyatukan manusia Indonesia dari berbagai latar belakang. Peristiwa yang membuat rakyat Indonesia berjuang bersama-sama membawa identitas sebagai individu yang cinta dan mau berkorban demi bumi pertiwi.  Bayangkan bila orang-orang seperti Nazaruddin dan Gayus mencurahkan segenap pemikiran, tenaga, dan waktunya untuk memajukan bangsa Indonesia. Niscaya tingkat korupsi akan menurun drastis. Bahkan pemberantasan korupsi hingga ke akarnya di Indonesia bukan lagi sebuah wacana. Tentu, kita berharap bangsa Indonesia tak perlu mengulangi peristiwa buruk di masa lampau untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya

Selasa, 05 Maret 2013

Resensi Buku


Tips Sukses di Usia Muda Seorang Billy Boen
Oleh: Muhammad Izzan Mursyidan

Judul : Young on Top New Edition
Penulis : Billy Boen
Penerbit : B first
Tahun Terbit : 2012
Tebal : xv + 208 Halaman
ISBN : 978-602-8864-67-1          

Setiap manusia yang hidup pasti menginginkan kesuksesan. Bahkan bagi sebagian orang, sukses adalah sebuah keharusan. Namun amat sedikit yang mampu meraihnya ketika mereka masih berusia muda. Sebabnya: banyak rintangan dan tantangan dalam menggapai kesuksesan tersebut. Mulai dari pekerjaan atau pendidikan yang kita jalani tidak sesuai dengan keinginan, belum memiliki target yang dapat memotivasi, selalu menyerah tiap mengalami kesulitan, hingga kurang percaya diri.
          Segala rintangan dan tantangan tersebut bukanlah alasan untuk menyerah dan berhenti mengejar kesuksesan. Justru segala ujian itu adalah proses yang akan membentuk pribadi kita menjadi lebih baik sekaligus merupakan bukti bahwa kita pantas untuk memperoleh kesuksesan. Namun apabila telah memperoleh kesuksesan, tetaplah humble dan membagi apa yang telah kita miliki kepada orang lain.
Sebagai seorang praktisi di dunia bisnis, Billy Boen mampu menangkap hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi sukses di usia muda. Dalam buku ini, Ia tidak hanya menulis pengalaman pribadinya sebagai perenungan, namun juga pengalaman orang lain, serta buku-buku pengembangan diri best-seller dunia yang Ia baca seperti Success 101, The Secret,  dan Lesson from the Top. Semuanya terangkum menjadi sebuah buku yang ringan dibaca namun sanggup memberikan big effect yang positif terhadap pembacanya.
Buku ini terdiri dari empat bagian dimana setiap bagian bagaikan potongan-potongan mozaik yang akan membawa pembacanya untuk terus membaca hingga halaman terakhir dan menarik intisarinya sendiri. Dengan gaya bahasa bertutur bak seorang teman, sang penulis tidak berusaha menggurui untuk membuat pembacanya paham nilai-nilai kesuksesan yang terdapat dalam buku ini.
Kelebihan buku ini dibandingkan buku-buku motivasi sejenis ialah pada setiap tip yang diberikan, terdapat contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat setiap tip kesuksesan yang diberikan mudah dipahami dan tidak cenderung teoritis yang malah dapat membuat para penulis bosan. Dalam buku ini juga diberitahu bagaimana menerapkannya dalam kehidupan.
Selain itu, logika yang diberikan cukup logis dan mudah diterima. Contohnya pada salah satu tip di bagian ketiga buku ini: share and receive. Mengapa kita harus membagikan ilmu yang kita punya? Bukankah dengan begitu orang lain dapat menyamai bahkan melebihi kepintaran kita, lantas kita akan tersaingi? Padahal sebaliknya. Mengajarkan orang di sekitar kita untuk lebih pintar akan memudahkan kita ketika harus bekerja dalam tim. Sebab beban kerja akan lebih ringan apabila kita bekerja dengan sekumpulan orang yang sama atau lebih pintar dari kita dibandingkan hanya kita seorang yang pintar dalam tim.
Masih banyak lagi tip untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi dalam meraih kesuksesan yang akan anda temukan dalam buku ini. Akhirnya, pembaca sendirilah yang akan memutuskan apakah ingin segera sukses atau menundanya. Seperti yang disampaikan penulis dalam halaman 156: motivasi sesungguhnya hanya bisa ditimbulkan dari dalam diri sendiri sebab mau sehebat apapun orang yang memotivasi, pembacalah yang mengambil langkah pertama dan berbuat.
So, segeralah mengambil langkah awal untuk sukses di usia muda, segera setelah membaca buku ini!
                

Rabu, 13 Juni 2012

Kajian


Memaknai Cyberculture dan Kebudayaan Pascaruang

Oleh: Muhammad Izzan Mursyidan


                Dua orang mahasiswa duduk berdampingan di kantin sembari menunggu pesanan makanan masing-masing. Mereka telah bersahabat bertahun-tahun lamanya. Lima menit berlalu sembari menunggu makanan, tak ada sepatah kata pun mereka ucapkan, bahkan melirik pun tidak. Bukan karena keduanya sedang mempunyai masalah. Terbukti, mereka justru tersenyum atau tertawa seskali. Sayangnya, bukan terhadap satu sama lain, namun kepada gadget yang mereka asyik masyuk menggunakannya.
                Gambaran di atas memang tidak benar-benar penulis alami. Namun situasi serupa tentunya sering terjadi dalam ruang-ruang sosial di era kontemporer. Atau mungkin anda sendiri memiliki empiris tenggelam dalam aktifitas artifisial dalam gadget? Nyatanya, kita telah menempatkan gadget sebagai kebutuhan primer dalam aktifitas kehidupan kita. Diakui atau tidak, gadget dengan jejaring sosialnya-facebook, twitter, blackberry messenger, whatsApp-telah mengintervensi aktifitas sosial kita di dunia nyata.
                Media sosial yang marak digandrungi sekarang ini memang tidak bisa disalahkan. Hal itu merupakan hasil dari penalaran manusia yang sselalu ingin maju. Namun tujuan penciptaan teknologi yang sesungguhya untuk membantu kegiatan manusia telah bertransformasi menjadi sebuah kebutuhan utama yang menggantikan kegiatan manusia di ruang fisik. Hingga akhirnya dunia fisik disubstitusi oleh dunia maya: cyberspace.

Penyebaran wacana dan multipersonalitas dalam cyberspace

Istilah cyberspace pertama kali diperkenalkan Wiliam Gibson dalam novelnya (Neuromancer, 1984). Gibson ,penulis novel science-fiction, menggambarkan realitas maya yang dapat menggantikan realitas nyata. Cyberspace menjadi seting utama novel-novel Gibson selanjutnya: Count Zero (1986), Monalisa Overdrive (1988), dan Virtual Light (1993).
Apabila dunia nyata tercipta dari atom, cyberspace tercipta dari satuan bit (digit biner)  yang membentuk lautan informasi. Bit inilah satuan terkecil DNA informasi yang membentuk aktivitas baru di ruang virtual. Bit, disimbolkan sebagai 1 atau 0 ( menunjuk dua keadaan: on-off, hidup atau mati) , menjadi komputasi dasar dunia digital. Cirinya adalah tidak mempunyai berat dan dapat bergerak dalam kecepatan cahaya.
                Sebuah keniscayaan bahwa cyberspace dapat menimbulkan penyebaran wacana dan multi-personalitas. Kini siapapun dapat menulis informasi, mengabarkan berita, mengkritik orang lain melalui dunia maya. Akibatnya kuasa informasi tidak lagi terpusat.  Siapapun dapat melakukannya asalkan mempunyai akses terhadap informasi. Inilah yang dikatakan Michel Foucault tentang tiadanya kekuasaan informasi yang terpusat di dunia era posmoderen.
                Keniscayaan yang kedua adalah multipersonalitas. Di alam virtual, identitas ditampakkan melalui citra diri seperti avatar dan gambar lainnya yang dapat dipilih sesuka hati. Potret diri yang dinilai kurang akan dihilangkan, sedangkan potret diri yang menarik akan kita tampilkan. Bahkan dapat kita ubah dengan bantuan peranti lunak seperti photoshop.
                Dunia virtual cenderung bebas dan tidak ada batas dalam menampilkan image. Bukan hal yang sulit membuat representasi diri di alam virtual. Hanya memerlukan akses terhadap ctberspace dan mengisi data sesuai keinginan kita sebagai persyaratan. Seorang perempuan dapat berpura-pura menjadi laki-laki di alam virtual. Seseorang yang sudah punya pacar dapat mengaku jomblo pada kenalannya di dunia maya. Bahkan kita tidak akan dapat membedakan apabila seekor monyet mengkonstruksi citra sebagai manusia di alam virtual. Dalam cyberspace, self menjadi self-fashion atau self-create.
                Kebebasan yang didapat dalam cyberspace juga mengakibatkan efek negatif. Seseorang dapat meninggalkan norma-norma dan nilai-nilai yang didapatnya di realitas sosial. Anak kecil dengan leluasa melihat adegan kekerasan yang belum tentu dapat dikritisi oleh kognisinya. Seseorang bebas mendapatkan bit pornografi tanpa persyaratan usia. Bahkan penipuan dalam e-commerce atau online shopping juga ditunjang cyberspace.

Cyberculture

                Masyarakat makin sering beraktifitas di cyberspace karena ditunjang dengan kemudahan memasukinya. Makin banyak smartpone yang menawarkan kemudahan akses terhadap dunia virtual, makin bnyak ruang publik yang terfasilitasi wi-fi, dan menjamurnya bisnis warnet adalah beberapa contoh kemudahan tersebut.
                Kemudahan ini membuat kita semakin intens berada dalam cyberspace ke timbang ruang fisik. Orang tidak perlu ke bank untuk mentransfer uang karena ada fasillitas e-banking. Orang jarang bertatap muka langsung sejak ada jejaring sosial. Orang bisa mendapatkan pakaian dan barang lainnya tanpa perlu jauh-jauh ke mall. Bahkan tidak perlu keluar kamar untuk mengkritik suatu rezim. Cukup di depan komputer.
                Banyak aktivitas dalam cyberspace yang dapat menggantikan usaha kita di ruang fisik. Mulai dari hiburan, politik, fashion, sosial, segala kebutuhan terpenuhi di alam virtual. Ini menimbulkan sebuah keadaan yang dinamakan ‘kesadaran pascaruang’. Yakni kondisi di mana manusia tidak lagi berinteraksi di wilayah yang dibatasi oleh ruang, melainkan berpetualang jauh di ruang tanpa ruang: cyberspace.
                ‘Kesadaran pascaruang’ ini muncul ketika manusia ter-upload ke dalam cyberspace dan menjadi bagian dari ekologi elektronik. Efek signifikan yang diakibatkan ‘kesadaran pascaruang’ adalah hilangnya kesadaran ruang dan kesadaran sosial. Manusia memosisikan diri sebagai bagian dari dunia cyber dan lebih mengakui ekistensi virtualnya ketimbang eksistensi fisiknya. Kesadaran sosial juga akan hilang sebab manusia, melalui kesadarannya, akan tersedot menjadi salah satu entitas dalam ekologi elektronik.

Kebudayaan pascaruang: substitusi kebudayaan ruang

                Kesadaran pascaruang ini akan membawa manusia menuju tranformasi kebudayaan pascaruang. Orang rela berjam-jam mencari teman di facebook dan mendapatkan kepuasan ketika temannya bertambah, namun di saat yang sama tidak mencari teman dalam realitas sosial secara fisik. Bahkan kesadaran ruang sudah tercerabut ketika seseorang memiliki ratusan teman di jejaring sosial yang tidak dikenalnya.
                Perbedaan mendasar antara cyberculture dengan kebudayaan pascaruang adalah kesadaran sesorang saat berada dalam cyberspace. Pada fase cyberculture, orang masih memiliki kesadaran untuk membedakan alam natural dengan alam virtual. Sehingga apa yang ia lakukan dalam alam virtual hanya selama aktivitas itu menunjang kehidupannya dalam alam natural. Contohnya ketika seorang mahasiswa menggunakan  email untuk mengumpulkan tugas kuliah. Ia menggunakan fasilitas cyberspace karena kebutuhan kuliahnya yang dilakukan di ruang fisik.
                Kebudayaan pascaruang telah mutlak terjewantahkan ketika seseorang menekuni cyberspace tanpa memedulikan eksistensinya di ruang fisik. Kebudayaan pascaruang ini tergambarkan oleh seseorang yang menangisi kekalahannya dalam suatu game online, namun tidak merasa apa-apa ketika salah satu tetangganya meninggal. Atau merasakan kepedihan yang mendalam saat teman chat-nya yang baru dikenalnya di facebook tiba-tiba offline, namun bergeming  saat teman di realitas nyata marah meninggalkannya.
                Pada akhirnya, diskursus kebudayaan pascaruang ini akan kembali kepada individu masing-masing selaku entitas dalam kedua ruang: ruang natural dan ruang virtual. Bagaimana manusia menempatkan posisinya dalam realitas sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan cyberspace pada era keterbukaan informasi. Jadi, di manakah posisi anda dalam konstelasi dua realita yang ada ?

Sumber:
Cultural Studies, teori dan praktik ( Chris Barker)

KUNCI No. 2, September 1999. Melalui http://kunci.or.id/esai/nws/02/cyberculture.htm (terakhir diakses Juni 2012)

CYBERCULTURE, TRANSFORMASI KEBUDAYAAN PASCARUANG, DAN BAYANG-BAYANG KEMATIAN SOSIAL Oleh Fahd Djibrai. Melalui  http://komahi.umy.ac.id/2010/12/cyberculture-dan-transformasi.html (terakhir diakses Juni 2012)

Senin, 11 Juni 2012


Menebar Virus Jurnalisme Warga (Citizen Journalism); Mari Berbagi Berita

Aktivitas manusia berderap semakin cepat di era kemajuan teknologi informasi sekarang ini. Seseorang yang berada di suatu benua membutuhkan informasi dari benua lainnya. Manusia semakin membutuhkan informasi dari berbagai peristiwa yang terjadi setiap detiknya agar tidak ketinggalan informasi.
  Hal inilah yang mencuatkan citizen journalism (jurnalisme warga) di samping berita utama media konvensional. Dengan keberadaan media sosial–blog, facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya– siapapun dapat melemparkan wacana. Kuasa informasi, meminjam pemikirannya Michel Foucault, tidak lagi terpusat, melainkan tersebar. Tidak hanya  media besar, namun masyarakat biasa juga diminta untuk menulis berita.

Dari peristiwa Koboi Palmerah hingga kasus Korupsi yang melibatkan 16 universitas negeri di tanah air, dapat disebarkan lewat jurnalisme warga. Namun menjadi pegiat jurnalisme warga tentu bukan sembarangan menulis berita. Tetap ada standar tertentu yang harus dicapai dalam sebuah pemberitaan. Berikut beberapa panduan menulis berita bagi anda yang berniat untuk menekuni citizen journalism.

            Definisi berita


Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang terjadi kemudian disajikan lewat bentuk suara, teks atau gambar. Berita harus berupa peristiwa atau hal yang dianggap penting. Oleh karena itu berita berpengaruh pada kehidupan khalayak banyak.
Penting tidaknya sebuah berita juga ditentukan oleh siapa yang akan melihat, membaca, atau mendengarnya. Berita korupsi pejabat di Jakarta belum tentu dianggap penting oleh peternak sapi di Kalimantan, berita pernikahan artis belum tentu menarik bagi tukang sapu di jalan raya, pun berita peresmian jembatan di Surabaya belum tentu dianggap penting oleh mahasiswa Ibukota.


Siapa itu jurnalis ?

Jurnalis adalah seseorang yang secara teratur menuliskan laporan berita dan tulisan yang dikirimkan/dimuat di media massa. Laporan ini lalu dapat dipublikasi melalui media massa: koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan yang paling mudah melalui internet.      
Tanpa memandang jenis media, istilah jurnalis membawa konotasi atau harapan profesionalitas dalam membuat laporan yang mempertimbangkan kebenaran dan etika. Jurnalis bukan hanya reporter yang hanya mengumpulkan infomasi dan menciptakan laporan atau cerita. Namun juga dapat mencakup kolumnis, penulis utama, perancang editorial, bahkan fotografer dan videografer.


Dasar-dasar Pelaporan dalam Sebuah Pemberitaan

            Anda mungkin telah mengenal pakem 5W + 1H dalam tubuh sebuah berita: apa, siapa, kapan, dimana, kenapa, dan bagaimana. Sebenarnya di era jurnalisme sekarang ini juga dikenal SW (so what), merujuk pada tujuan sang penulis dalam memaparkan berita. Namun aspek yang terpenting adalah enam hal berikut ini:

1.       Apa
Peristiwa apa yang akan dikabarkan?  Bencana alam, pertandingan sepak bola, konser musik, pemilu, merupakan peristiwa yang dapat diberitakan. Topik atau kejadian yang akan kita ambil menjadi sangat penting untuk memberikan batasan pemberitaan agar tetap fokus pada satu kejadian.
2.       Siapa
Tanyakan nama,usia, pekerjaan, dan hal lainnya. Beberapa informasi terkait narasumber seperti nomor telepon menjadi vital bila kita, umpamanya, ingin menanyakannya kembali. Jangan lupa tanyakan juga bagamana ia mau diidentifikasi dalam berita.
3.       Kenapa
Kenapa sebuah peristiwa dapat terjadi? Aspek tersebut wajib ada dalam berita. Berita kecelakaan motor, misalnya, membutuhkan analisis penyebab kecelakaan tersebut. Aspek ini kerap menguji integritas jurnalisme warga saat menemui kesulitan mengumpulkan informasi. Akibatnya,  asumsi menjadi alternatif untuk melengkapi kedangkalan informasi tersebut.
4.       Dimana
Spasial sebuah berita akan menentukan minat khalayak ramai. Banjir di rumah kita mungkin tidak dapat dijadikan berita menarik. Berbeda apabila banjir tersebut terjadi di Bandara Soekarno-Hatta sehingga mengganggu aktivitas migrasi di sana. Cek kembali rincian nama tempat, alamat, dan wilayah suatu peristiwa dengan cermat. Kesalahan nama akan menjatuhkan kualitas dan mutu berita.
5.       Kapan
Ketahui kapan dan berapa lama peristiwa berlangsung. Seringkali, sebuah berita menarik menjadi tidak dibaca karena peristiwa yang diberitakan sudah terganti dengan topik baru yang lebih hangat.
6.       Bagaimana
Bagaimana kajadian itu berlangsung dan bagaimana rincian ceritanya. Kronologis peristiwa harus diterakan secara jelas dan runtut sehingga pembaca mudah memahami berita secara komprehensif.

Penulisan sebuah berita

Berita yang diangkat haruslah sesuatu yang baru dan masih jarang diketahui khalayak. Logikanya, orang tidak akan menghabiskan waktunya untuk menekuni berita yang telah ia ketahui. Kalaupun kita membuat berita yang telah diketahui khlayak, pilih sudut pandang (point of view) yang berbeda dari yang telah ada.
Tingkat kepercayaan sebuah berita akan menentukan jumlah orang yang membaca berita kita. Agar informasi dalam berita benar-benar akurat, banyak jurnalis yang terlibat langsung dalam peristiwa. Misal dalam peristiwa banjir di Istana Negara, kita mendatangi dan mengumpulkan informasi langsung dari Istana Negara untuk mengetahui seberapa besar banjir tersebut, apa dampaknya terhadap aktivitas di sana, dan informasi lainnya. Hal ini akan memperkecil tingkat kesalahan dalam pemberitaan.
Bagaimana bila peristiwa tersebut telah terjadi sehingga kita hanya mendapatkan dapat mencari informasi dari orang lain? Hal inilah yang memerlukan kehati-hatian sebab kesaksian narasumber dapat berbeda-beda. Misalkan dalam suatu demonstrasi, warga setempat mengatakan demonstran berjumlah 800 orang, salah seorang demonstran yakin ada 500 orang, namun pengendara yang lewat memperkirakan hanya 200 orang. Untuk menghindari kesalahan data, seorang jurnalis harus meminta pada sumber yang berwenang dan dapat dipercaya.
Bila menemukan  kebingungungan untuk menentukan berita yang akan ditulis, sebaiknya mulai dari sesuatu yang kita sukai. Hal ini membuat kita cenderung senang dan tak terbebani. Memberitakan topik yang kita pahami juga akan mempertajam isi berita. Apabila belum familiar, maka wawasan tentang topik tersebut perlu ditingkatkan. Hal ini penting karena kita harus tahu aspek apa saja yang harus diketahui dalam berita yang dibuat.
Untuk menghasilkan berita yang bagus, berusahalah bekerja seprofesional mungkin. Bukan demi  kepentingan individu dan kelompok tertentu. Buatlah berita yang  jujur dan berimbang agar tidak menyesatkan pembaca serta tidak mengandung nilai-nilai yang mengintervensi sebuah berita yang independen.

Berhadapan dengan narasumber

            Saat berada di lapangan, pastikan anda membawa peralatan penunjang: catatan manual, catatan digital, telepon selular, laptop, kamera/kamera video, dan perekam suara. Persiapan akan sangat menentukan kerja di lapangan. Selain mempermudah pengumpulan berita, benda-benda tersebut juga akan meningkatkan kepercayaan diri anda di depan narasumber.
                Jangan lupakan juga etika dalam mewawancarai narasumber. Di antaranya tidak boleh memberi pertanyaan yang bernada memojokkan dan menginterogasi. Buatlah narasumber nyaman berbagi informasi pada kita. Jangan memaksa apabila orang tersebut tidak mau diwawancarai dan penuhi keinginan narasumber apabila meminta agar identitasnya tidak disebutkan.
Apabila berita telah ditulis, jangan lupa meminta komentar dan penilaian orang terdekat. Orang lain dapat melihat dari sudut pandang yang berbeda sehingga lebih objektif.. Bergabung dalam komunitas sesama pegiat jurnalisme warga juga perlu. Selain dapat dapat bekerja sama dalam pelaporan berita, kita juga dapt meminta saran pada orang yang lebih berpengalaman.
Jadi tunggu apa lagi? Timbulkan semangat kritismu dan berbagi berita kepada orang lain.

Sumber:  Buku saku “Bagaimana Berpikir dan Bertindak Menjadi Jurnalis”  yang diterbitkan TEMPO Institute.